E-Book EPS Topik Korea 2016 – 2017 – 2018 – 2019

 PEMBAGIAN E-Book UJIAN EPS TOPIK 2016 – 2017 – 2018 – 2019

Diberitahukan kepada Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berminat untuk bekerja ke Korea dengan mekanisme program G to G melalui ujian EPS-TOPIK, disampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Indonesia EPS Center, Human Resources Development Service of Korea membagikan Buku Teks Standar Belajar Mandiri Persiapan Ujian EPS TOPIK untuk para CTKI yang berminat bekerja di Korea Selatan.
  2. Buku Teks Standar ini telah melewati penelitian pengembangan oleh para ahli selama 1 tahun. Dari 15 negara pengirim tenaga kerja, buku ini didistribusikan pertama kali dalam Bahasa Indonesia.
  3. Buku Teks Standar ini dicetak oleh EPS Center dalam jumlah terbatas, dan untuk memudahkan mendapatkannya file buku teks standar ini telah diunggah di website EPS Center (www.hrdkepsid.com) dan website BNP2TKI (www.bnp2tki.go.id) dengan cara klik link di bawah ini:

Bagi siapa saja yang ingin mendapatkannya bisa mengunduh secara gratis melalui website tersebut. sumber : bnp2tki.go.id

Kamus bergambar dan Lawan kata Bahasa Korea

Bagi rekan rekan yang sedang belajar bahasa korea dengan tujuan bekerja di korea melaiu sistem Test EPS TOPIK tentu bahsa korea adalah mutlak di kuasai.ketika mempelajari sebuah bahasa tertentu mungkin kosa kata yang terlebih dahulu kita kuasai adalah kosa kata lawan kata karena lawan kata adalah sesuatu yang selalau ada dalam hidup kita termasuk dlam dunia kosa kata bahasa manapun, so jika kita udah menguasai kosa kata lawan kata maka kosa kata yang lainay pun akan mudah kita pelajari

LAWAN  KATA    
Sonseng Guru Murid Hanseng
Beuda / Gongbu HD Belajar Mengajar Kareucita /
Ugi Musim hujan Musim Panas Yoreum
Ttang Darat Laut Bada
Gaeul Musim Gugur Musim Kemarau Gon Gi
Aph Depan Belakang Dwi
Wi Atas Bawah Are /Mit
Wenc’ok Kiri Kanan Oreun C’ok
Nat Siang Malam Bam
Achim Pagi Sore Jonyok
Oje Kemarin Besok Neil
Geujoke Kemarin Lusa Besok Lusa More
Soehoe Tahun baru Akhir Pekan Jumal
Mae il Setiap hari Setiap Minggu Mae Ju
Sillye HD Permisi Berjabat Tangan Aksu HD
KATA  KERJA Jogi Sana
Gogi Itu Yeogi Ini
Oda Datang Pergi Kada
Tora Kada Pulang Berangkat ChulBal HD
Achim Siksa Sarapan Pagi Makan Siang Jomsim Siksa
Jonyog Siksa Makan malam Memesan Yeyak HD / Jumun HD
Chu da Memberi Menolak Kajol HD
Chongso HD Membersihkan Mengotori Dorop HD
Gukyong HD Melihat-lihat Paling — Gajang / Jeil
IL HD / Jagop ta Bekerja Istirahat / Libur Hyuga
Pot ta Melepaskan Memakai Meya da
Noh o Meletakan Membawa Kajiu da
Gyehoeg Rencana Berharap Bala neun
Man Na da Bertemu Berpisah Ipyol HD
Ttwi da / Talli da Berlari Berjalan Koro Kada
Kyo da Menyalakan Mematikan Kkeu da
Bone da Mengirim Menerima Bat da
Gangje HD Memaksa Memohon Buthak HD
Kat ta Mengambil Memilih Goreu da
Soda / Iroso da Berdiri Duduk Anj da
Sa da Membeli Menjual Phal da
Billi da Meminjam Menukar Pakku da
Yol da Membuka Menutup Tadu da
Ssuda / Sayong HD Menggunakan Membuang Bori da
Ilk ta Membaca Menulis/Menyusun Jok ta / Jaksong HD
Mal HD Berbicara Diam Joyong HD
Josim HD Berhati – hati Ceroboh/Gegabah
Joha HD Menyukai Tidak Suka/ benci Silh ta / Miun HD
Irona da Bangun Tidur Jada / Jamjagi
Jungji / Kuman HD Berhenti Mulai Sigan / Butho
Simgak HD Serius Bergurau Nongdam HD
Olli da Menaikan Menurunkan Neri da
Senggak HD Ingat Lupa It da
Ha da Mengerjakan Meninggalkan Tona da
Gi ib da / Deuri da Masuk Keluar Naga da / Chul gu HD
Ut da Tertawa Menangis UL da
Gojang HD Merusak Memperbaiki Gochi
KkeuTh Na Da Selesai Menjadi Dwi da
Nomoji Da Jatuh Membantu Dop Da
Murobo Da Bertanya Menjawab Detap HD
Chak Da / Go hago Mencari Menemukan Balkyeon
Jone / Gijone Sebelum Sesudah / setelah Hue / Bolso
Jakkeum Kadang 2 Sering Jaju
Bang Keum Baru Saja Nanti Najonge / It Ta Ga
Geu Rom Kalau begitu Entah lah Keur Sseyo
Ina Atau Selalu Hang Sang
KATA  SIFAT
Palleu da Cepat Lambat Neuri da / Neut da
Chul Geun Masuk kerja Pulang Kerja Theu Geun
Iljjik Awal Akhir Kkeut
Mogop ta Berat Ringan Kabyop ta
Konkang HD Sehat Sakit Appeu da
Gakkap da Jauh Dekat Mol ta / Geuncho
Gibuni Bahagia Sedih Sulpeu da
Keeureu da Rajin Malas Pujiryon HD
Anjon Aman Bahaya Wihom
Nopta Tinggi Rendah Nat ta
Nolp da Luas Sempit Job da
Jon dong HD Rapih Semrawut Bokjap HD
Balk Da Terang Gelap Odup ta
Teugop ta Panas Dingin Chakap ta
Tta Tteut HD Hangat Sejuk Siwon HD
Swip ta Mudah Sulit Oryop ta
Himi Istda Kuat Lemah Himi Opsda
Talda Manis Pahit Sseu da
Ccada Asin Asam Sida
Mul Air Api Bul
Kheun Besar Kecil Jok ta
Kilta Panjang Pendek Ccalp ta
Manh ta Banyak Sedikit Jok ta
Ssa da Murah Mahal Bissa da
Ttok Ttok HD Pintar Bodoh Babo HD
Mian HD Maaf Maaf Jwisong HD
Musop da Takut Berani Gamhi
Bu ja Kaya Miskin Ganan
Gath HD Sama / Seperti Berbeda Dareuda
Ttkbbareu Lurus bengkok

mohon koreksinya. maklum saya tidak pakai tulisan hangul. karena malas harus ketik hangul… ditunggu comaet dan koreksinya….

Kamus Bergambar

 

 

WAOSAN BABAD GALUH – PRABU SILIWANGI IV

X.06    Siliwangi dinobatkan menjadi raja di Pajajaran (pupuh XLIII.23 – XLIV.04)
Prabu Ciungwanara berkata, “Tidak akan bodoh orang mau disuruh mengusir musuh, karena pada akhirnya dia akan dinobatkan menjadi apa yang menjadi miliknya. Kamu tidak merebut dari siapa-siapa karena tahta itu adalah pusakamu sendiri. Kamu sesungguhnya adalah gantung 1)-ku. Si gantung sekarang akan kunobatkan menjadi penguasa Pakuan Parahiyangan 2). Para kuwu sudah satu hati bahwa kamu lah yang akan memerintah, menduduki pemerintahan Pajajaran yang didoakan agar dalam menjalankan pemerintahan semoga kamu diberkahi oleh Yang Acinta Manik, ratu sajagat buwana semua ini”.
Penobatan itu disambut oleh getaran gempa bumi, yang menjadi saksi penobatan Prabu Siliwangi. Sang raja meraga sukma akadang sukma, para Dewata memayungi. Sudah sangat termashur dan tidak ada yang menandingi raja Pajajaran. Keluarganya banyak,  anaknya banyak, isterinya banyak, mereka tinggal mengisi negara Sunda. Sang raja terkenal serta telah menjadi pembicaraan akan kehebatannya yang melebihi sebagai seorang pejuang, tidak ada musuhnya di dunia ini yang mampu untuk menghalangi kehendaknya.
X.07    Para pembantu pemerintahan Prabu Siliwangi (pupuh XLIV.05 – XLIV.08)
Para menak yang membantunya namanya bermacam-macam, antaranya: Gajah Muntang, Gajah Barong, Gajah Tandhing, Gajah Manggala, Gajah Siluman, Gajah Enggang, Gajah Puntang, dan Gajah Rucik. Juga banyak Tumenggungnya : Kalang Wirana, Kalang Badhag, Kalang Brama, Kalang Luhur, Kalang Eling, Kalang Lunana, Kalang Tonggo, Kalang Sari, Kalang Angkes, Kalang Siyu, dan Kalang  Rejang. Ka-demang-annya banyak sekali, memenuhi bumi. Demikian juga dengan Ngabehinya, mantri besar, mantri kecil sudah berada di mana-mana. Demikian juga halnya dengan isteri – isterinya.
X.08. Anak keturunan Prabu Siliwangi (pupuh XLIV.09 – XLIV.10)
(Dalam bab ini dikisahkan anak keturunan Prabu Siliwangi dari 22 isterinya – menurut sumber lain sang prabu memiliki 151 isteri – Disini kami hanya menyalin isteri yang ke 21 dan 22 saja yang menurunkan keturunannya di Cirebon)
21.       Adapun isterinya yang dari seberang bernama Nyi Sumbang Karancang . Dia berasal
dari negara Singapura  diambil isteri oleh raja Pajajaran. Dari perkawinan ini dia memberikan tiga anak, satu laki-laki bernama Prabu Cakrabuwana, ditengah anak perempuan bernama Rara Santang  dan bungsunya anak laki-laki bernama Ki Raja Sangara. Ketiga anak tidak sejalan dengan keyakinan ayahandanya, mereka berkehendak agar ayahandanya masuk agama Islam. Itulah awalnya mereka dimusuhi oleh ayahandanya sehingga mereka kemudian diusir. Awalnya mereka tinggal di Kaputran, kemudian menyingkir pergi tanpa tujuan, hingga akhirnya mereka pergi menyeberang ke Mekah. Rara Santang diambil isteri oleh raja Mesir dan dia tinggal disana. Cakrabuwana pulang dan menetap di Carbon lalu menikah dengan anaknya Ki Kuwu Kancana Larang, yang kemudian mempunyai anak bernama Pangeran Carbon dan seorang anak perempuan bernama Nyi Pakungwati. Cakrabuwana dikenal dengan nama-nama lain seperti  Haji Abdul Iman, juga Arya Lumajang atau Pangeran Gagak Lumayung.
Cakrabuana membelot dari Pakuan dengan cara menghentikan pengiriman pajak terasinya.  Rara Santang setelah lama di Mesir itu kemudian mempunyai dua anak laki-laki yang bernama Syekh Hidayatullah dan Syekh Nurullah. Syekh Hidayatullah pulang ke Jawa dan tinggal di gunung Amparan  dan dipanggil Sunan Gunung Jati, dijaga oleh uwaknya Arya Lumajang. Sudah banyak yang masuk dan berguru agama Islam baik orang kecil maupun para bangsawannya, mengikuti Wali Jati yang memperoleh keramat.
22.       Adapun anak Prabu Siliwangi dari anaknya Dampu Awang 3) yang kaputrennya di
Kandhanghaur, bernama Balilayaran 4). Putri bungsu Siliwangi itu sejak masih kecil sangat dekat dengan sang Prabu Siliwangi, dia mengikuti kesana-kemari tidak pernah tertinggal.
Catatan:
1.                 1.   Gantung Siwur, penarikan garis keturunan “Gantung Siwur”  pada penghitungan ke bawah: Anak,
                  Cucu, Buyut, Bao, Canggah, Wareng,Udheg-udheg, Gantung, Siwur (Khasan Effendy, 1994:6).
2.      Prasasti Batutulis mencatat: “++ wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamokta di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun ++ i saka, panca pandawa e(m)ban bumi ++”. Terjemahan: Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwangi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dia lah (yang membuat semua itu.). Dibuat dalam tahun Saka lima pandawa pengasuh bumi (=1455 M). (Sejarah Jawa Barat:7).
3.      Dampu Awang, seorang saudagar muslim dari Champa yang banyak dikisahkan dalam babad-babad Cirebon. Dampuawang berasal dari bahasa Sansakerta dang puhawang, artinya ‘nakhoda yang dihormati’. Julukan itu diberikan kepada orang yang mempunyai semangat besar menjaga, melindungi, dan memajukan maritim.
4.      Dalam beberapa naskah ada perbedaan nama. Dalam Naskah Kuningan, anak Dampu Awang ini bernama Dewi Nyi Aci Putih yang kemudian dilamar Prabu Siliwangi. Dari perkawinan dengan sang raja, lahir seorang putri yang diberi nama Putri Aci Bedaya yang diperisteri raja Bagdad yang masih kerabat dari ayah dari Sunan Gunung Jati.

WAOSAN BABAD GALUH – PRABU SILIWANGI III

X.04    Siliwangi mengusir Kidang jejadian (pupuh XLIII.04) – XLIII.12)
Setelah sekian lamanya, timbul keinginan Siliwangi untuk mengusir para menjangan jejadian, hal mana dicegah oleh Rara Sigir. “Jangan lakukan itu, aku khawatir kamu tidak akan mampu melawannya karena kesaktian mereka itu tidak tertandingi. Mereka telah mampu mengalahkan Prabu Mundingkawati”. Pemuda Siliwangi menjawab, “Mati dalam membela negara adalah permata bagi seorang laki-laki. Mencari apa lagi, bukankah dengan perbuatan itu surga indah akan diperolehnya kelak”.
Tidak dapat dihalangi lagi, kemudian Siliwangi berangkat. Tanpa membawa pengiring dan hanya dengan membawa panah dan busurnya dia pergi menantang bahaya yang menantinya. Kyan Manjangan Gumulung sudah bersiap-siap menghadapi kehebatan manusia yang datang itu. Siliwangi diterjangnya namun lolos seperti menerjang bayangan saja. Kemudian serangan Manjangan Gumalunggung itu dibalasnya, anak-anak panahnya dilepaskan dan kemudian diamuk dengan pemukul, hingga akhirnya rusa itu pun rebah dan mati. Kemudian anaknya, yaitu Manjangan Gumaringsing, datang membela dengan bala tentaranya. Namun Manjangan Gumaringsing segera disambut oleh senjatanya Siliwangi. Senjata itu mengenainya dan dia terbawa terbang, dan ketika jatuh dia berubah menjadi manusia. Kemudian Manjangan Gumaringsing segera datang menyerahkan diri dengan memberikan hormatnya kepada Siliwangi.
Betapa kagumnya para menak dan kuwu yang menyaksikan kesaktiannya junjungannya. Selama sebelas tahun kota-kota telah kosong dan baru sekarang ada Jaka Siliwangi yang mampu merebut lagi puri, dan lebih dari itu Manjangan Gumaringsing telah menyerahkan diri dan berbakti kepadanya. Dia diampuni dan diberi daerah kekuasaan di Gunung Galunggung tempatnya.
X.05    Jaka Siliwangi membebaskan Parahiyangan (pupuh XLIII.13 – XLIII.22)
Kemudian Jaka Siliwangi pergi ke arah barat, menuju Parahiyangan. Kidang Panawungan waktu melihat berkelebatnya kedatangan manusia segera dia memburunya dan Jaka Siliwangi pun kemudian dihadapinya. Namun dengan mudah Kidang itu disabet dan dipanah oleh Siliwangi hingga Kidang Panawungan pun mati. Kemudian sang anak, Kidang Pananjung, datang hendak membela ayahandanya. Dia menghadapi Siliwangi namun diapun segera terkena oleh panahnya Siliwangi. Kidang Pananjung jatuh dan berubah menjadi manusia. Kemudian dia datang menyembah kehadapan Siliwangi. Itulah awalnya bagaimana menak-menak Parahiyangan bisa kembali lagi ketempatnya dan berkedudukan lagi seperti waktu dahulu. Sebelas tahun lamanya mereka mengungsi dan sekarang bisa dipulihkan kembali oleh Jaka Siliwangi. Kidang Pananjung kemudian diampuni dan diberi daerah di Panawungan.
Pulih sudah keamanan di Bumi Pajajaran, Siliwangi mulai menghimpun pemerintahan di Pajajaran yang kelak bakal diperintahnya sebagai raja yang kuat. Tidak antara lama Prabu Sepuh Ciungwanara pergi ke Ujungbana. Dia sangat berterimakasih atas pertolongan jejaka perwira muda yang sakti ini, yang telah merebut kemuliaan yang sangat besar, dia akan menjadi penerus raja Pajajaran. Tidak lama kemudian datang Sanghyang Parwatali, Sanghyang Talibarat, Gelap Nyawang dan para saudaranya yang lain memberitahukan bahwasanya pemuda itu adalah anaknya Mundingkawati yang dilahirkan di tegal padang Siliarum. Ketika diburu oleh Kidang Manjangan, waktu itu sudah waktunya sang bayi lahir hingga dilahirkan di perjalanan. Sang bayi jatuh tertinggal di Tegal Siliwangi. Adapun kedua orang tuanya masuk ke gunung meninggalkan bayi itu. Sang bayi dibersihkan oleh seekor induk harimau, kemudian ditemukan oleh Ki Borih dimana dia memperoleh kekebalan dan kesaktian (bersambung).

WAOSAN BABAD GALUH – PRABU SILIWANGI II

WAOSAN BABAD GALUH –  PRABU SILIWANGI II

  1. X.02    Pajajaran sepeninggal Prabu Mundingkawati (pupuh XLII.07 – XLII.24)

Tidak diceriterakan perjalanan hidup si kecil Siliwangi, dikisahkan Kidang jejadian mengetahui hilangnya sang Prabu dan mereka pun menjadi marah dengan mengobrak-abrik Pajajaran. Para menak dan kuwu hilang melarikan diri dikejar ketakutan sehingga tidak ada lagi yang mau tinggal di kota. Pemukiman ditinggal pergi hingga keadaannya kosong dan sekarang diisi Kidang dan Menjangan yang bergerombol hilir mudik siang dan malam. Keangkuhannya bagaikan tentara yang telah memenangkan peperangan dan dia yang sekarang menjadi penguasanya. Disitulah awalnya tempat tinggal para menak dan kuwu menjadi seperti kena tulah, mereka takut untuk menyerang karena takut diamuk. Dalam ketakutan mereka semua minggir ke tempat yang jauh-jauh.
Kidang Panawungan dan Menjangan Gumalunggung terus melampiaskan amarahnya mengamuk ke arah barat, menyerang Pakuan Parahyangan. Tempatnya Prabu Sepuh Ciungwanara digempur habis-habisan. Menak Parahiyangan pun menghilang, mereka pergi mengungsi menghindar ke gua-gua dan ke gunung-gunung yang jauh. Tidak ada yang bisa bertindak, semua pergi melarikan diri. Prabu Ciungwanara mengungsi ke tempat sunyi di pertapaannya Ajar Ujung Banaliwung. Di situ dia dilindungi oleh Ki Ajar. Prabu Ciungwanara sudah mengerti bahwa anak cucunya sudah bercerai berai berlarian menyelamatkan diri dari kerusuhan, keadaannya kacau mereka sudah tidak menghiraukan lagi yang membuat keributan. Mereka semua berlarian tidak memikirkan lagi kedudukan. Negara sudah porak poranda dikalahkan oleh Kidang jejadian dan ditempati oleh Kidang menjangan inton-inton.
Dalam keangkuhannya mereka mengusir raja, membalas dendam karena diburu oleh Mundhingkawati. Yang semula memburu sekarang berganti diburu. Kidang Panawungan beserta pengikutnya menguasai di Pakuan Barat yaitu Parahiyangan. Malahan mereka sudah mempunyai anak bernama Kidang Pananjung yang kemudian berubah menjadi manusia. Adapun Manjangan Gumlunggung dengan pengikutnya menguasai wilayah Pajajaran, para kuwu Pakuan sebelah timur. Sedangkan daerah Pajajaran sebelah tenggara sudah dikuasai oleh Kidang Sampati, sebelah baratnya oleh Kidang Panawung, dan sebelah timurnya oleh Manjangan Kumlingking yang sudah menurunkan anak bernama Manjangan Gumaringsing yang berupa manusia.
            Asal muasalnya mengapa waktu itu Kidang Manjangan tertarik berhubungan dengan manusia sebab dimulai pada waktu dahulu oleh Linggahiyang. Sama halnya dengan Kidang Panawungan, akhirnya menjadi manusia. Bilamana manjangan yang di Galunggung suka kepada manusia, maka monyet Cogowang ya sama juga, mereka suka kepada manusia sebab asal-usulnya dari Lutung Kasarung dahulu. Itulah asal muasalnya seperti begitu. Bilamana dikisahkan bahwa pada waktu itu ada penduduk yang berkerabat dengan raja hewan, memang sesungguhnya ada, hal ya menyimpang selamanya.
X.03    Siliwangi diambil Nyi Rara Sigir (pupuh XLII.24 – XLIII.04)
Siliwangi masih kecil dan masih menjadi anak penggembala. Jelek dan kotor, anak kecil yang tidak mengetahui adat istiadat. Tidak lama kemudian dia memperoleh kebahagiaan. Puteri dari menak Sindangkasih yang bernama Nyi Rara Sigir[i] tertarik untuk mengambil si kecil Siliwangi. Anak itu diurus serta dimandikannya sehingga muncul cahaya kebesarannya. Sekarang tampak tanda-tanda bahwa dia adalah keturunan dari bangsawan besar. Gilang-gemilang bersinar cahayanya, memancar keluar sehingga sang Ayu Rara Sigir jatuh cinta kepadanya dan menginginkannya untuk menjadi jodohnya. “Jadikanlah Jaka Siliwangi ini menjadi jodohku, semoga tercapai keinginan hatiku”, begitulah permintaannya.
            Dikisahkan kemudian, pada waktu itu terjadi malapetaka. Ciptaannya Dalem Palimanan bermaksud akan menculik Putri Rara Sigir. Raksesa itu datang menyambar sang putri, namun sang putri Sigir dapat mengelak dan segera ditolong oleh Siliwangi. Dua raksesa itu dilawannya, ditendang hingga raksesa itu jatuh terguling-guling. Ketika itu semua orang di Sindangkasih menyaksikan akan kesaktian Siliwangi. Mereka menduga bahwa anak itu pastinya bukan anak sembarangan, dia telah mampu mengusir kedua raksesa itu. Dengan kejadian itu orang Sindangkasih mulai melihat Siliwangi sebagai seseorang yang tidak bisa diremehkan (bersambung).