Laporan PPL

Pendahuluan

Dalam  kegiatan  Proses  Belajar  Mengajar,  diperlukan  suatu  kerja  sama  antara berbagai unsur dari pendidikan itu sendiri. Salah satunya ialah sosok seorang guru yang memiliki kemampuan membimbing, mengajar, melatih, dan mendidik yang tinggi. Untuk itu tenaga seorang guru harus dipersiapkan sedini mungkin agar mampu memberikan yang terbaik dan diharapkan oleh pemerintah untuk siswa.

Seorang mahasiswa keguruan yang akan menjalani profesi sebagai seorang guru yang baik tidaklah cukup dengan berbagai mata kuliah yang didapatkan di kampus. Akan tetapi calon seorang guru dituntut untuk mengetahui dan memahami sendiri bagaimana sebenarnya tugas dan profesi seorang guru di lapangan. Untuk itu seorang calon guru harus  mempersiapkan diri sedini mungkin baik secara mental maupun material.

Oleh karena itu lembaga seperti kampus Universitas Pendidikan Ganesha ( Undiksha ) Singaraja telah mengusahakan suatu program orientasi Program Pengalaman Lapangan (PPL) secara bertahap dan terpadu bagi setiap mahasiswa sebelum mereka melakukan kegiatan PPL yang sebenarnya (Real). Program orientasi ini diharuskan bagi mahasiswa yang sedang duduk  di  semester  II  dan  IV.  Oleh  sebab  itu  disusun  suatu  instrumen  khusus  untuk mendapatkan pengalaman awal dari mata kuliah yang akan diprogramkan dan atau berupa pendalaman pemahaman yang bersifat praktis dari materi yang didapatkna sebelumnya. sehingga  pemahaman  tentang  berbagai  aspek  yang  terkait  dengan  kegiatan  belajar mengajar menjadi lebih mantap Dalam kegiatan Orientasi PPL ini meliputi observasi, wawancara, diskusi atau ikut berpartisipasi  aktif  dalam  berbagai  kegiatan  yang  terkait  (kecuali  mengajar)  dengan mengacu  pada  tuntutan  yang  telah  disiapkan  dalam  instrumen  yang  telah  dibuat  dan ditentukan oleh lembaga.

selengkapy download sini : http://www.mediafire.com/?8tpo4qxquqmua5g

Proposal Skripsi Bahasa Indonesia

Meningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Melalui Pengajaran Piranti Kohesif

Persamaan Persepsi

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah pada umumnya ditekankan pada penguasaan empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu berbicara, menyimak, menulis, dan membaca. Menulis sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa perlu untuk dikuasai. Penguasaan keterampilan menulis tidak kalah pentingnya dengan penguasaan tiga aspek keterampilan berbahasa yang lainnya. Pentingnya penguasaan keterampilan manulis amat terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Mengingat menulis merupakan salah satu kegiatan yang dapat memungkinkan terjadinya komunikasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Nuraini (1994: 233) yang menyatakan fungsi utama menulis adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Dikatakan tidak langsung karena, komunikasi melalui media tulisan tidak mengharuskan komunikator dan komunikan hadir disatu tempat yang sama dan berhadapan langsung untuk berkomunikasi. Dengan kalimat lain, komunikasi yang terjadi antara komunikator dan komunikan bisa terjadi meskipun keduanya terpisah ruang dan waktu. Komunikan mengetahui isi pesan komunikator dengan membaca tulisannya.
Keterampilan menulis juga sangat berperan dalam dunia pendidiakan. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang tidak terlepaskan dalam proses pendidiakan. Mengingat hampir dalam setiap penyelenggaraan kegiatan pendidikan membutuhkan penguasaan terhadap keterampilan menulis. Pendapat ini didukung oleh Enre (dalam Sugiani, 2007: 2) yang menyatakan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang vital dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu setiap unsur yang terlibat dalam proses pendidikan dituntut untuk menguasai keterampilan menulis.

Siswa dan mahasiwa sebagai salah satu unsur yang terlibat di dalamnya juga tidak lepas dari tuntutan tersebut. Bagi sisiwa dan mahasiswa keterampilan menulis sangat dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau dosen. Selain untuk memenuhi tuntutan tugas yang diberiakan oleh guru atau dosen, menulis juga dapat meningkatkan pengetahuannya. Sriasih (dalam Budi Utama, 2007: 1) menyatakan peningkatan keterampilan menulis siswa, diyakini dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan kurikuler dan pada akhirnya bisa mencapai tujuan pendidiakan nasional yang telah ditetapkan.
Mengingat pentingnya keterampilan menulis dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam proses pendidikan, perlu kiranya pengajaran menulis lebih diperhatikan. Pengajaran menulis harus lebih dioptimalkan agar tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pengajaran menulis dapat dicapai. Semi (1993: 100) menetapkan beberapa tujuan pengajaran menulis.
a) Siswa mampu menyusun buah pikiran, perasaan dan penglaman kedalam susunan atau komposisi yang baik,
b) Merangsang imajinasi dan daya pikir atau intelek siswa,
c) Siswa mampu mengguanakan perangkat kaidah menulis dan menggunakan kaidah kebahasaan saat menulis,
d) Siswa mampu menyusun berbagai bentuk karangan (surat , laporan, artikel dan lain-lain),
e) Mengembangkan kebiasaan menulis yang akurat, singkat, dan jelas serta menarik.

Dalam dunia pendidikan, keterampilan menulis diajarkan mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah ke atas. Namun hal ini tidak serta merta membuat siswa cepat menguasai keterampilan menulis. Pengajaran menulis yang ada pada setiap jenjang dan tingkat pendidikan tidak memberi jaminan kepada subjek didik atau siswa untuk dapat dengan mudah menguasai keterampilan menulis. Sebagian siswa masih beranggapan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang sulit, sehingga tidak jarang menulis dianggap sebagai beban. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Sugiani (2007: 2) bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang sulit dan tidak gampang. Menulis akan menjadi sebuah kesulitan apabila tidak pernah dilakukan dan tidak ada niat untuk melakukannya. Sebaliknya menulis akan menjadi gampang apabila sering dilatihkan.

Selengkapnya Download Di SIni  http://www.mediafire.com/?22bu69evafm9qfa